Senin, 09 Februari 2009

PERPEKTIF PSIKOLOGI POSITIF TERHADAP CINTA

Cinta adalah hal yang sukar dijelaskan dan sukar untuk dipahami. Tetapi cinta adalah hal yang teramat sangat penting dalam hidup manusia. Hal yang nyata dalam perilaku manusia adalah bahwa pencarian akan cinta dan hubungan yang penuh dengan dukungan adalah faktor yang signifikan dalam kehidupan seluruh manusia. Manusia selalu ingin dicintai dan mencintai. Alasan untuk mendapatkan belahan jiwa agar dapat hidup bahagia selamanya adalah hal yang sangat global pada setiap kultur manusia. Mengapa begitu banyak perhatian yang diberikan kepada jenis emosi tunggal ini? Dan apakah benar-benar cinta bisa membawa kesejahteraan dan kebahagiaan ? faktanya, hubungan yang positif adalah salah satu prediktor yang sangat signifikan dari kebahagiaan dan kepuasan hidup manusia. Bahkan cinta adalah hal yang sangat esensial dalam hidup manusia.
Dalam pembahasan tentang cinta ini, dapat dilihat secara singkat tentang kemajuan studi tentang cinta. Dimana beberapa waktu belakangan ini cinta mulai dijadikan topic penelitian psikologi. Mengingat psikologi yang tradisional lebih melihat sisi buruk seseorang daripada hal-hal baik dan indah dari seseorang. Meneliti tentang cinta adalah hal yang tidak mudah. Beberapa dari sedikit peneliti yang berani meneliti tentang cinta adalah Berscheid and Walster (1969,1978) yang mengenalkan romantic love kedalam daya tarik interpersonal. Kemudian Rubin (1970) yang meneliti membedakan gaya mencintai sesuai dengan kegemaran, dan Harlow (1974) yang memperluas penelitian tentang cinta sampai kepada spesies diluar manusia.
Pembahasan ini tidak hanya menitik beratkan kepada romanttisme cinta atau cinta yang dirasakan oleh dua orang yang berlainan jenis kelamin dan adanya rasa ingin memiliki. Tetapi pembahasan ini diperluas dengan cinta orang tua terhadap anak, anak terhadap orang tua, cinta terhadap sahabat, cinta terhadap sesama.





ISI

A. Definisi tentang cinta
Definisi tentang cinta bermacam- macam. Mengingat cinta adalah hal yang sulit untuk didefinisikan, sullit untuk dijelaskan, dan sulit untuk dipahami.
Cinta adalah bagian dari emosi dan berhubungan dengan kemampuan afeksi yang kuat.
Kata ‘cinta’ menunjukkan pada perasaan, keadaan, dan sikap. Dari kesenangan-kesenangan yang umum (saya suka makanan itu) sampai pada hal yang khusus yang memiliki daya tarik interpersonal ( saya cinta pacar saya).
Sebagai konsep yang abstrak, cinta biasanya merujuk pada perasaan yang begitu dalam tentang kepedulian yang tulus kepada orang lain. (Wikipedia, 2008)
Cinta juga diartikan sebagai perasaan sayang sekali atau kasih sekali; terpikat antara laki-laki dan perempuan ( Kamus lengkap bahasa Indonesia, h.84).
Rubin (1983) membuat skala cinta dan mengkonsepkan cinta sebagai suatu sikap tentang orang lain, sebagai suatu himpunan pikiran yang khusus tentang orang yang dicintai. Menurut Rubin, ada tiga tema yang tercermin dalam pernyataan-pernyataan dalam skalanya yaitu kelekatan, keinginan untuk member perhatian, dan menemukan rasa percaya dan pengungkapan diri.
B. Evolusi dan Cinta
Berdasarkan perspektif evolusi, cinta memiliki hal-hal yang membuat manusia mampu beradaptasi (Shackelford & Buss, 1997). Sebagai makhluk sosial, manusia membutuhkan kelompok dan orang lain untuk dapat mengukir hidupnya, keluarganya, dan kelompok sosialnya. Dengan konteks ini, manusia akan berusaha menciptakan bentuk-bentuk keakraban, kedekatan, dan ikatan-ikatan yang dapat mendukung individu tersebut kedalam kumpulan individu yang lebih kecil. Dari sudut pandang biologis, ikatan ini mendoring manusia untuk membuat perlindungan terhadap kedekatan yang telah terjalin. Khususnya dengan anak-anak mereka.
Tetapi sudut pandang biologis ini tidak mengungkap aspek-aspek emosional dari individu. Dimana dalam sudut pandang biologis, ikatan-ikatan yang terjadi antar individu tidak diungkap berdasarkan aspek emosional seperti hal-hal yang berhubungan dengan cinta (janji sehidup semati, puisi cinta, lagu-lagu cinta) yang sebenarnya hal itu dapat mempengaruhi kedekatan dan ikatan didalam kelompok sosial individu, tidak hanya dilihat dari gen, hormon, dan neurotransmitter.
C. Teori Cinta
Karena cinta memiliki pengaruh yang sangat penting untuk kesejahteraan emosional, maka beberapa penelitian mengeklusifkan pada topic tentang cinta. Seperti yang telah banyak diketahui bahwa beberapa penelitian berpusat pada hal-hal apa yang membuat individu merasa puas dengan hubungannya dan faktor-faktor apa saja yang bisa membuat hubungan individu berjalan stabil. Beberapa pandangan teoritis tentang tipe atau macam dari cinta akan banyak membantu dalam memahami cinta.
Michael Barnes dan Robert Sternberg (1997) mengelompokkan perspektif tentang cinta kedalam teori explicit dan implicit. Perspektif yang menganalisis elemen inti dari cinta, dikelompokkan kedalam teori explicit. Tidak mengherankan bahwa pandangan ini melihat cinta dari satu dimensi. Freud melihat cinta dengan pandangan yang sama dengan Barnes dan Stenberg. Freud melihat cinta sebagai fenomena tunggal (Freud,1921/1952). Secara esensial, cinta merupakan emosi yang dapat menghasilkan berbagai macam bentuk.
Walaupun banyak penelitian yang mendukung teori dimensi tunggal Barnes dan Stenberg, banyak juga penelitian yang mengetengahkan cinta sebagai multidimensi. Salah satu bentuk dari teori multidimensi adalah teori two-factor (Hatfield, 1988; barnes & Stenberg, 1997). Beberapa peneliti mengetengahkan dua faktor dalam cinta. Yaitu passionate love dan companionate love. Para peneliti melihat bahwa kedua elemen ini sebagai dasar dan elemen utama dari cinta. Dan elemen-elemen ini dapat memunculkan macam dari cinta dimana manusia berkecimpung didalamnya. Yaitu kebaikan dan keburukan. Passionate love adalah kerinduan yang begitu kuat terhadap orang yang dicintai. Hal ini dapat memunculkan bentuk keputus asaan yang begitu hebatnya apabila terjadi penolakkan dari orang yang dicintai, atau kegembiraan atas penyatuan emosi serta pemenuhan sexual. Companionate love sering dihubungkan dengan afeksi, pertemanan, persahabatan, dan komitmen jangka panjang dalam suatu hubungan. Menurut Hatfield (1988) dua hal dalam passionate love yaitu kegembiraan yang luar biasa dan kesedihan yang begitu dalam akan memperkuat perasaan dari individu yang berada didalamnya, walaupun hal yang menyenangkan selalu ada didalam companionate love.
Teori lain tentang multidimensi adalah segitiga cinta Sternberg. Teori ini adalah teori yang paling sering disebut-sebut dalam perspektif multidimensi. Sternberg (1986) mengatakan bahwa semua hal yang berkenaan dengan cinta dibangun dari tiga komponen emosi yaitu nafsu, keintiman, dan komitmen. Nafsu (passion) adalah respon emosional yang hebat terhadap seseorang. Keintiman (intimacy) adalah kehangatan, kedekatan, dan saling mencurahkan perasaan dalam hubungan. Komitmen adalah keputusan untuk memelihara hubungan. Tiga tipe cinta dapat dideskripsikan : infatuation (hanya mengandalkan nafsu saja) adalah cinta pada pandangan pertama. Pada umumnya cinta ini hanya melibatkan suatu obsesi untuk mengidealisasikan pasangannya, liking (hanya mengandalkan keintiman), dan empty love (hanya mengandalkan komitmen saja). Cinta ini kemmungkinan terjadi dalam hubungan dengan jagka waktu yang lama dan mengalami stagnasi.Dengan mengkombinasi dua tipe, akan mendapatkan tiga tipe lainnya. : romantic love (keintiman dan nafsu), companionate love (keintiman dan komitmen), dan fatuous love (nafsu dan komitmen). Dan akhirnya consummate love adalah gabungan dari ketiganya yaitu nafsu, komitmen, dan keintiman. Dan kebanyakan individu mengharapkan mendapatkan consummate love didalam hidupnya, karena cinta model ini adalah hubungan cinta yang ideal.
D. Corak dari cinta
Eros merupakan passionate love. Dimana individu membuat batas-batas ideal dari pasangannya. Seperti membuat batas ideal keadaan fisik dari pasangannya dan mengandalkan cinta dari intensitasnya. Ludus adalah cinta yang hanya untuk main-main. Dan mengedepankan hubungan yang saling menguntungkan antara keduabelah pihak. Ludus memiliki komitmen terhadap pasangan yang rendah dan biasanya memiliki pasangan lebih dari satu. Storge adalah cinta yang menitik beratkan pada persahabatan. Pragma adalah cinta yang praktis. Cinta yang menuntut adanya pasangan yang serasi dan hubungan yang berjalan baik. Biasanya bentuk cinta ini melibatkan banyak pertimbangan logis dalam menentukkan pasangan dan lebih senang mencari kepuasan daripada kegembiraan. Mania adalah tergila-gila dengan cinta. Individu yang tergolong dalam mania ini adalah individu yang teramat sangat menginginkan cinta tetapi seringnya yang didapat adalah kesengsaraan karena cinta. Agape adalah cinta yang lebih mementingkan aspek memberi daripada menerima.
E. Cinta dan kebahagiaan.
Ada banyak penelitian yang menunjukkan bahwa cinta akan membawa kebahagiaan dalam hidup seseorang. Tesis yang dibuat oleh Myers dan Diener (1995) dalam mendiskusikan masalah cinta mencatat bahwa orang-orang yang menikah memiliki perasaan lebih bahagia daripada orang-orang yang tidak pernah menikah, bercerai, atau berpisah dari pasangan mereka. Hendrick & Hendrick (2000) melakukan penelitian dengan menggunakan 348 siswa perguruan tinggi. Hasilnya siswa-siswa yang sedang menjalin hubungan dengan seseorang lebih merasa bahagia daripada siswa-siswa yang sedang tidak memiliki hubungan. Dalam sample yang sama, nilai kebahagiaan memiliki korelasi positif dengan passionate love.
F. Faktor-faktor yang berkaitan dengan cinta
a. Ganjaran (reward)
Walaupun rasa suka dan cinta berbeda, tetapi beberapa faktor yang member ganjaran sehingga meningkatkan rasa suka ternayat kemungkinan juga meningkatkan kesempatan pada cinta (Hudaniah dan Dayakisni, 2006 h.200) misalnya faktor-faktor itu adalah kedekatan, kesamaan, nilai-nilai, daya tarik fisik, dan saling mencintai.
b. Perbedaan Gender
Hasil penelitian Hatfield & Walster (1978) menunjukkan bahwa pria tiga kali lebih mungkin daripada wanita untuk bunuh diri setelah berakhirnya hubungan cinta (dalam Hudaniah dan Dayakisni, 2006).
Hasil riset juga menunjukkan bahwa ada perbedaan seks dalam gaya percintaan. Pria kelihatannya lebih cenderung pada gaya bercinta romantic, main-main atau egoistic, sementara wanita cenderung pada gaya cinta persahabatan, obsessive/insecure atau pragmatic (Hudaniah dan Dayakisni, 2006).
c. Cemburu : reaksi terhadap ancaman dalam suatu hubungan
Cemburu adalah suatu konsekuensi emosional yang potensial sewaktu-waktu atau kapanpun suatu hubungan terbentuk. Kehilangan pasangan atau kemungkinan kehilangan pasangan menciptakan emosi, pikiran dan perilaku rumit yang dapat menghancurkan. Cemburu nampaknya menjadi suatu emosi yang unik yang lebih intens daripada mundrnya hubungan romantic yang telah lama (Worchel, dkk.2000 dalam Hudaniah dan Dayakisni, 2006)
Menurut Gregory White (1981), pengalaman cemburu memiliki empat fase : (1) fase pertama, penaksiran awal, individu memoersepsi bahwa ada suatu ancaman terhadap keberadaan hubungan itu. (2) penaksiran kedua, irang mencoba untuk memahami situasi secara lebih baik dan mulai berfikir tentang cara-cara untuk mengatasinya. (3) reaksi emosi, cemburu dapat mengakibatkan reaksi emosional yang rentangnya beragam dan luas, walaupun perasaan-perasaan ini umumnya negatif (sedih, menderita, malu). (4) persepsi, pikiran dan perasaan yang dimiliki orang tentang cemburu akan mempengaruhi bagaimana orang berusaha untuk mengatasi kecemburuan itu. (dalam Hudaniah dan Dayakisni, 2006).




KESIMPULAN
Cinta adalah bagian dari emosi yang sulit untuk didefinisikan dan dipahami, tetapi cinta merupakan hal terpenting dalam kebahagiaan manusia. Karena manusia merupakan makhluk sosial yang memiliki kebutuhan-kebutuhan akan rasa saling memiliki dan saling mencintai.
Cinta dalam pembahasan ini tidak hanya cinta pada pasangan saja tetapi cinta yang luas yang meliputi pasangan maupun keluarga dan sahabat.
Cinta dapat mendatangkan kebahagiaan dan kesejahteraan. Karena didalam cinta terdapat kelekatan secara fisik dan emosional, perhatian, hubungan yang intim, perasaan membutuhkan, rasa percaya, dan toleransi terhadap kesalahan. Hal-hal tersebut adalah hal yang dibutuhkan manusia untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhannya akan rasa saling memiliki yang akhirnya akan membawa kepada kebahagiaan.
Cinta merupakan hubungan yang positif. Yang merupakan salah satu prediktor yang sangat signifikan dari kebahagiaan dan kepuasan hidup manusia.









KOMENTAR
Cinta bagi kehidupan manusia adalah hal yang esensial. Mengingat manusia adalah makhluk sosial yang tidak pernah lepas dari proses interaksi dengan lingkungan sosialnya. Karena itu cinta merupakan bagian dari hubungan interpersonal. Karena didalam cinta, melibatkan dua orang atau lebih yang saling berinteraksi dan berkomunikasi.
Walaupun beberapa orang menafsirkan cinta tidak membawa kebahagiaan, tetapi kenyataan dari beberapa penelitian yang telah dijelaskan sebelumnya pada bagian isi membuktikan bahwa orang-orang yang terlibat didalam hubungan cinta dengan orang lain (pasangannya) merasa lebih bahagia daripada orang yang tidak memiliki hubungan cinta, bercerai, ataupun berpisah. Karena sesungguhnya cinta memang bisa membawa kebahagiaan yang luar biasa bagi manusia. Terbukti bahwa kegagalan cinta akan membawa manusia untuk mencari cinta yang baru. Kalau memang cinta itu tidak bisa membawa kebahagiaan dan kesejahteraan, dan hanya membawa kemalangan dan kepedihan, pastilah manusia tidak akan mencari cinta yang baru.
Studi tentang cinta adalah studi yang sangat menarik. Karena misteri dibalik cinta yang bisa berakibat begitu hebatnya pada manusia, memunculkan rasa ingin tahu lebih dalam tentang bagian dari emosi ini, untuk dapat diteliti lebih lanjut.
Saran :Untuk masa yang akan datang, pembelajaran tentang cinta dapat dikembangkan lebih daripada sebelumnya. Karena cinta merupakan komponen yang penting untuk kebahagiaan dan kesejahteraan individu. Cinta walaupun terkesan ringan, tetapi terdapat struktur yang kompleks didalamnya. Maka dari itu, perlu adanya pengembangan studi tentang cinta.
Masih perihal masa yang akan datang, semoga semakin banyak peneliti yang mengembangkan penelitiannya dengan melihat sisi positif dari individu dan tidak hanya mengungkap sisi negative dari seseorang.





DAFTAR RUJUKAN
Snyder, Lopez.(2002). Handbook of positive psychology.USA. Oxford university press.
Compton.(2005).An introduction to positive psychology.USA.Wadsworth.
Dayakisni, Hudaniah. (2006). Psikologi sosial. Malang. UMM press.
http://pos-psych.com/
http://en.wikipedia.org/wiki/Love

Tidak ada komentar: