Oleh : Kafka Pizechust
“SELALU ada berlebih satu orang di dekatku”, demikian ujar sang pemikir.”Selalu yang dulunya satu ini lambat laun menjadi tua!”
Aku dan Ku selalu terlibat dalam percakapan yang sangat jujur satu sama lain: tak bisa dibayangkan bagaimana bisa tahan jika keduanya bukan teman?
Bagi sang pemikir itu seorang sahabat selalu merupakan orang ketiga : ia pelampung yang mencegah percakapan kedua pihak lain tenggelam dalam kedalaman.
Astaga, bagi semua makhluk ada terlalu banyak kedalaman. Itulah alasannya mengapa amat merindukan seorang sahabat beserta ketinggian budinya.
Kepercayan kita terhadap orang-orang lain mengkhianati kita ketika kita begitu ingin mempercayai diri kita sendiri. Kerinduan kita akan seorang sahabat adalah pengkhianat kita.
Sering pula kita Cuma mau melompati rasa cemburu dengan cinta kita. Sering kita menyerang dan menciptakan musuh guna membunyikan betapa rentan kita akan serangan.
“Setidaknya jadilah musuh bagiku!” demikianlah berkata penghormatan yang sejati, yang tidak berusaha meminta-minta persahabatan.
Jika engkau ingin seorang sahabat, engkau harus juga bersedia berperang bagi dia : dan untuk mengorbankan peperangan, engkau harus mampu menjadi seorang musuh.
Engkau harus menghormati bahkan musuh yang ada dalam diri temanmu. Dapatkah engkau berdekatan dengan dia tanpa berpihak padanya?
Dalam diri sahabatmu engkau mestinya memperoleh lawan terbaik. Hatimu harus merasa paling dekat dengan dia bila engkau sedang menentangnya.
Maukah engkau bertelanjang dihadapan sahabatmu? Maukah demi menghormati dia engkau perlihatkan dirimu sebagaimana adanya? Tapi ia akan mengusirmu ke Neraka karena perbuatan itu!
Ia yang tidak merahasiakan dirinya mengobarkan kebencian orang-orang lain: itulah sebabnya engkau terpaksa takut akan ketelanjangan! Andaikata engkau dewa bolehlah engkau malu dengan busanamu.
Jangan engkau terlalu bersolek demi sahabatmu : sebab bagi dia engkau adalah anak panah kerinduannya akan Manusia unggul.
Pernahkah engkau memandang sahabatmu selagi tertidur untuk mengenal seperti apa sesungguhnya dia? Yang engkau lihat bukan hanya wajah sahabatmu. Itulah wajahmu sendiri, dalam cermin yang kasar.
Seorang sahabat harus bisa menduga dan menjaga kapan masanya diam: engkau tak boleh ingin tahu semuanya. Biarlah mimpimu memberi tahu padamu apa yang diperbuat sahabatmu saat terjaga.
Semoga belas-kasihmu menduga: dengan begitu engkau akan segera tahu kalau sahabatmu ingin dikasihani.
Barangkali yang ia sukai darimu, adalah matamu yang tak berkedip dan pandangan keabadian.
Biarlah belas kasihmu pada sahabatmu menyembunyikan diri di balik cangkang keras; agar patah gigimu bila menggigitnya. Demikianlah maka ia akan berasa lezat dan manis.
Adakah engkau udara yang murni dan kesunyian dan roti dan obat bagi sahabatmu? Banyak orang tak mampu membebaskan dirinya sendiri dari belenggunya sedang dia itu pembebas sahabatnya.
Budakkah kamu? Kalau begitu, engkau tak mungkin menjadi sahabat. Tirankah kamu? Kalau begitu, engkau tak akan mendapat sahabat.
Dalam diri perempuan, ada budak dan tiran yang bersembunyi sejak lama. Oleh sebab itu, perempuan belum lagi mampu bersahabat: hanya cinta ia ketahui.
Dalam cinta seorang perempuan terdapat ketidakadilan dan kebutaan terhadap semua yang tidak ia cintai. Dan dalam cintanya yang tercerahkan pun, masih ada serangan tak terduga-duga dan petir dan malam, bersama hadirnya cahaya.
Perempuan belum lagi mampu bersahabat: perempuan masih seeokor kucing dan burung, atau, paling jauh, madu.
Perempuan belum lagi mampu bersahabat. Tapi katakan padaku, hai para lelaki, yang mana di antara kalian mampu bersahabat?
O kemiskinan dan ketamakan jiwa kalian, hai para lelaki! Berapa pun banyak apa-apa yang kalian berikan kepada sahabat kalian akan aku berikan bahkan pada musuhku, dan tak akan jatuh miskin aku karena itu.
Ada perkawanan :semoga ada pula persahabatan.
*untuk seorang sahabat yang selalu mengajarkan aku bagaimana keakuanku dan bagaimana kedirianku….Kuhadirkan diriku untuk dirimu dan melindungimu keindahanmu, hingga kau berkata :DIA yang terbaik untukmu
Senin, 09 Februari 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar